Berau Siapkan Lompatan Besar, Dengan Teknologi AI Sampah Akan Diolah Menjadi Industri Baru
Bupati Berau, Sri
Juniarsih Mas, saat membuka kegiatan
Berau Circular Future 2045 dengan tema “Menjadi harapan kami dari Sampah
Menjadi Industri Baru Daerah”, Senin (29/6/2026), di Hotel Mercure, Jalan
Murjani II, Tanjung Redeb. (foto : sep/fn)
POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Di tengah tantangan ekonomi yang menuntut daerah tidak lagi bergantung pada sektor berbasis sumber daya alam semata, Pemerintah Kabupaten Berau mulai menyiapkan langkah besar yang tidak biasa: mengubah persoalan sampah menjadi kekuatan ekonomi baru daerah.
Bukan sekadar program
kebersihan atau pengelolaan lingkungan biasa, Berau kini mulai membangun
fondasi menuju ekonomi sirkular sebuah konsep yang menjadikan sampah bukan
akhir dari konsumsi, melainkan awal dari lahirnya nilai ekonomi baru.
Komitmen tersebut
ditegaskan Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, saat membuka kegiatan Berau Circular Future 2045 dengan tema
“Menjadi harapan kami dari Sampah Menjadi Industri Baru Daerah”, Senin
(29/6/2026), di Hotel Mercure, Jalan Murjani II, Tanjung Redeb.
Di hadapan peserta
dan pemangku kepentingan yang hadir, Sri menyampaikan bahwa arah pembangunan
Kabupaten Berau tahun 2025–2029 tidak hanya berfokus pada pertumbuhan ekonomi,
tetapi juga menyiapkan fondasi ekonomi masa depan yang lebih beragam, adaptif, dan
berkelanjutan.
Menurutnya, Berau
selama ini telah dikenal melalui sektor pertambangan, perkebunan, dan
pariwisata. Namun ke depan, daerah harus memiliki sumber pertumbuhan baru yang
mampu memberikan manfaat ekonomi lebih luas sekaligus menjaga lingkungan.
“Saat ini kita jangan
hanya bicara sektor pariwisata tapi di
dalamnya ada pertanian, perikanan, industri pengolahan, dan tentu persoalan
lingkungan. Pengelolaan sampah menjadi agenda strategis yang harus kita dorong.
Daerah wisata harus identik dengan kebersihan dan keindahan,” ujar Sri.
Pernyataan tersebut
menjadi penanda bahwa Berau mulai menggeser paradigma pembangunan dari ekonomi
yang bergantung pada eksploitasi sumber daya menuju ekonomi yang memaksimalkan
pengolahan dan penciptaan nilai tambah.
Sebagai langkah
konkret, Pemkab Berau menggandeng dua mitra korporasi, yakni PT Bumi Sanggam
Indonesia dan PT Jono Enviro Indonesia.
Kolaborasi ini
diarahkan untuk menghadirkan sistem pengelolaan sampah modern melalui
pembangunan pabrik pengolahan sampah berbasis teknologi Artificial Intelligence
(AI). Dalam skema kerja sama tersebut, PT Bumi Sanggam Indonesia akan
menghibahkan lahan pembangunan, sementara PT Jono Enviro Indonesia menyediakan
teknologi pengolahan dan sistem operasional industri.
Yang menjadi
perhatian, teknologi yang dirancang bukan sekadar mesin pengolahan biasa.
Sistem ini nantinya disebut mampu melakukan proses pemilahan sampah secara
otomatis menggunakan teknologi kecerdasan buatan, sehingga material yang masuk
dapat dipisahkan berdasarkan jenis dan potensi nilai ekonominya sebelum
diproses menjadi produk lanjutan.
Bila terealisasi
sesuai rencana, Berau berpeluang menjadi salah satu daerah di Kalimantan Timur
yang mulai menerapkan pendekatan industri hijau berbasis teknologi dalam tata
kelola persampahan. Namun transformasi tersebut tidak berhenti pada pembangunan
pabrik. Pemkab Berau juga menyiapkan inovasi yang langsung menyentuh masyarakat
melalui pengembangan ATM Sampah atau Bank Sampah Mini otomatis.
Konsepnya sederhana
tetapi memiliki dampak besar. Warga nantinya cukup memilah sampah rumah tangga
seperti plastik, kaleng, atau material lain yang bernilai ekonomi, kemudian
memasukkannya ke mesin, memindai barcode, dan nilai hasil setoran akan langsung
masuk ke rekening pribadi tanpa proses penimbangan manual.
Dengan sistem
tersebut, masyarakat tidak hanya diajak menjaga lingkungan, tetapi juga
memperoleh manfaat ekonomi secara langsung. Sri mengatakan, gagasan tersebut
lahir dari keyakinan bahwa sampah tidak lagi bisa dipandang sebagai sesuatu
yang harus dibuang.
Sebaliknya, sampah
harus diposisikan sebagai sumber daya baru yang dapat diolah dan menghasilkan.
“Saya memiliki impian
besar, dan mimpi itu menjadi kenyataan ketika kita saling berkolaborasi. Sampah
bukan lagi sesuatu yang tidak bernilai untuk dibuang begitu saja, tetapi
menjadi komoditas yang memiliki nilai ekonomi tinggi bagi masyarakat,” ungkapnya.
Melalui pendekatan
ekonomi sirkular, material hasil pengolahan nantinya diharapkan dapat diubah
menjadi produk bernilai tambah dan membuka peluang lahirnya rantai industri
baru di daerah. Pemerintah daerah juga memproyeksikan manfaat yang lebih luas
dari kerja sama tersebut.
Mulai dari
meningkatnya investasi daerah, terbukanya lapangan pekerjaan baru, bertumbuhnya
pelaku usaha berbasis pengelolaan sampah, meningkatnya partisipasi masyarakat
melalui bank sampah, hingga kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Untuk memastikan
rencana ini tidak berhenti pada seremoni, Pemkab Berau menargetkan tindak
lanjut melalui penyusunan peta jalan pembangunan, penguatan kelembagaan, serta
pembangunan kawasan industri hijau yang terintegrasi. Pemkab juga melibatkan
Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) untuk memberikan pendapat hukum
(legal opinion) agar pelaksanaan program memiliki kepastian hukum dan tetap
berjalan secara akuntabel.
Di akhir sambutannya, Sri mengajak seluruh pemangku kepentingan, termasuk perusahaan yang beroperasi di Kabupaten Berau, untuk memperkuat kolaborasi dan ikut mengambil peran dalam mengurangi timbulan sampah di lingkungan operasional masing-masing. Jika langkah ini berjalan sesuai target, Berau tidak hanya sedang membangun sistem pengelolaan sampah.
Berau sedang mencoba
membangun identitas ekonomi baru sebuah daerah yang tidak lagi hanya
menghasilkan sumber daya, tetapi juga mampu mengolah persoalan menjadi peluang,
mengubah limbah menjadi nilai, dan menjadikan lingkungan sebagai bagian dari
masa depan pembangunan. (sep/FN/Advertorial)